Ranum

Jika saja kau beri aku waktu lebih, akanku cecar kau dengan deretan pertanyaan:“apa sebenarnya yang ada didalam otak sintalmu itu?”, “bolehkah aku mencari tahu? itupun kalau kau izinkan, namun sayang!”

Ku hela napas tiap membaca runutan aksaramu, merekah bibir tipisku dan untunglah aku tak sembari bercermin sebab mungkin pipiku memerah karenanya.

Biarkan kini aku sebatas penggemar karyamu yang berharap kau takkan berhenti memandang dunia dari ujung pena.
Oh iya, sampaikan salamku pada Ibu, Retno dan Asley, doakan aku umur panjang.
Ah sial! mengapa baru kini kutemukan kau menarik? *gumamku*

(5 Januari 2020)

 

Majnun

Di tempat terakhir yang semestinya tak seorangpun merasa sunyi
Aku menyudut menyepi.
Di kala orang-orang sibuk bergembira di akhir hari
Kucari mata air penyamar air mata ini.
Selamanya rinduku selalu terkhianati
Sebab kesalahanku yang tak ingin waras kembali
Jika mencintamu ialah bentuk penghambaan diri pada satu-satunya tuhan selain engkau,
Maka akulah sufi yang candunya selalu kamu.

Fana Merah Jambu

Tuan bermata indah, suci bak bayi yang masih memerah
Setiap jengkal wajahmu mengguratkan keksatriaan yang dulu tidak lelah

Lalu, pernahkah kau benar-benar pulang atau sekadar rangkaian tualang?

Harapan kau mekarkan serupa kecintaanmu yang merekah di ujung tahun
Atau semisal senja pecah di langit pantai sekali waktu
Hati yang tersayat, fana merah jambuku, membeku!

17 Juni 2018

Lelakiku, Lelahku

Telah kurasa menjadi kau kini
Tetap diam meski dikejar serupa jilat api

Selalu lelah  yang kudapat setiap kupaksanya berhenti
Karena kobar itu tidak padam barang seinci
Tetapi bebalku, ingin kutahu rupamu
Atau kesyukuranmu dengan tatapan sendu
Sebab detik dan menit ini menjebakku
Pada haru lelahku di hari lelakiku.

11 April 2018

Tertanda, aku.

Tidak ada yang lebih liar dari ingatan tentang hujan

Bahu, Payung Teduh dan ‘rumahku’

Disuatu februari sore itu

 

Tertanda, aku.

 

 

12 Februari

Annelies ėn Ontosoroh

Berdua kita dudukkan perkara

Dari bukan sesiapa hingga kembali sediakala

Tapi diantara kedua rentang waktu itu

Wangimu merebak menusuk hidung dan warasku

Suaramu tak pernah lelah bergolak dalam darahku

Sebab keingintahuanmu buatku riang cerita segala bahkan yang cuma

Wahai lelaki bertatap embun…

Sebab bisumu, keingintahuanku baru temui jawabnya kini

Jika sekejap saja kau sepertiku, takkan ada kelancangan menerobos ruang yang ternyata tak hampa

Terlanjur…

Aku bagaikan tameng dan kaupun mengamininya, agar tak bisa kau dihakimi dunia.

Sekarang, kitapun persis dua tokoh yang aku sematkan

Karenanya kusadar tiap kata sejatinya doa.

(November, 2017)

 

Hitungan Mundur

Demi langit dan laut yang pernah kudongakkan kepala berdoa tentang sesuatu yang semu, aku akan pulang mengemas beribu rindu.

Perlahan wujudku akan menjadi sekadar khayal, pula celotehku tak usah lagi kau kenal.

Tapi dikepulanganku kali ini aku (takkan) benar-benar dirumah, sebab persinggahan sejatiku sudah semusim musnah.

(Oktober, 2017)

Narcissus dan Danau

Akulah Narcissus yang senang berkaca ditepian danau, setiap hari hampir disetiap waktu.

Tak jemu mengagumi keindahanku sendiri yang terpantulkan dari bening ketenanganmu

Suatu ketika aku terlalu terlena dan membuatku hilang menuju dasarmu.

Merasuki seisimu juga palung-palung terdalamnya menjadi danau airmata, entah sebab haru aku telah menjadi bagianmu ataukah sebaliknya.

Tapi aku tak pernah sebersyukur saat kau menjadi tempat berpulang terakhirku.

Selagi itu, dewi-dewi hutan bertanya, “mengapakah kau bersedih wahai danau?” Dan kaupun menjawab, “Aku menangisi Narcissus karena tak mampu kusadar bahwa ia juga indah. Aku merindunya. Tiap ia berlutut di dekat tepianku, dari kedalaman matanya dapat kulihat pantulan keindahanku sendiri.” Inspired by “The Alchemist, Paulo Coelho”

(September, 2017)

WordPress.com.

Up ↑